Kata Maaf Yang Tak Pernah Sampai

· Uncategorized
Penulis

arya: Ulfah

Ya Allah…

Sanggupkah aku terus terbelenggu rasa ini

Sebuah perasaan yang menyakitkan

Rasa bersalah yang sulit mencari kata maaf

Namun…

Aku tak ingin kembali melewati hari agung-Mu

Tanpa sebuah maaf darinya. Tapi bagaimana caranya?

Jarak yang jauh menyulitkan semuanya

Ya Rabb… bantulah hamba-Mu ini.

Andini

Ditutupnya buku agenda kecil berwarna biru, kedua matanya sembab… terpampang jelas raut wajah sedihnya. Tiba-tiba segelintir kenangan-kenangan indah masa lalu berkelebat dalam pikirannya silih berganti begitu cepat, namun sekejap terganti oleh kenangan pahit yang menyesakkan dada.

Tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sesak sembari bibir mungilnya tak henti beristighfar mencoba menenangkan hatinya dan meminta ampun pada Sang Rabb.

Andini bersujud, berserah diri dalam do’a yang diiringi tangisan penyesalan. Ia bangkit dari sujudnya yang lumayan panjang, tak disadarinya lampu masjid sudah mati. Ia menengok kesekelilingnya. Sepi, sunyi, gelap yang dirasa. Sayup-sayup daun yang tertiup angin terdengar jelas dari samping kiri Masjid An-nur. Angin itu datang menyapanya tanpa belas kasihan, dingin menusuk tulang.

Andini masih enggan beranjak menuju kompleknya, ia masih ingin merenung. Ia merenungi dosa besar yang masih di tanggungnya. Pikirannya selalu dibayangi ketakutan luar biasa, apalagi setelah mendapat surat dari sahabat lamanya di SMP yang jauh disana. Andini masih ingat isi suratnya.

Andin, maaf… aku belum bisa menyampaikan amanatmu,

karena sekarang dia tidak tinggal di rumah,

Sinta bilang Arga sudah pergi ke pesantren

di Tasikmalaya satu tahun yang lalu, maaf yah…

surat yang kamu titipkan buat Arga dua minggu yang

lalu hilang, aku tak bermaksud menghilangkannya

surat itu diambil seseoarng dari tasku.

An, aku tahu kamu sangat berharap…

aku akan berusaha membantumu tapi aku tidak

berani janji.

Marsya

Andini tak bisa berbuat apapun kecuali hanya mengadu pada-Nya. Andini tahu merindukan kaum Adam yang bukan makhromnya adalah tak sepatutnya, tapi ini bukan lagi sebuah rindu cinta pada pria ajnabi, ini adalah rindu penyesalan seorang sahabat. Ia hanya ingin tahu masalah yang tak jelas kemuadian berubah besar. Dulu, Arga marah besar padanya tanpa penyebab yang jelas, kedekatannya dengan Arga tiba-tiba jauh…. Permintaan maaf dengan berbagai cara tak diresponnya, Arga memilih diam mengunci mulutnya. Hanya ucapan-ucapan kasar yang keluar dari mulutnya.

“Untuk apa aku mendekati makhluk paling menjijikan sepertinya…” Ucap Arga yang selalu terngiang dan terlalu sulit di lupakannya.

Andini hanya menyesalkan persahabatan dengannya yang baru saja terangkai dengan indah setelah dua tahun bagai kucing dan anjing terputus begitu saja.

“Astaghfirullohhaladzim…” Bibir mungilnya bergetar melafalkan dzikir seraya tangan kanannya memegangi tasbih birunya dan mutiara hatipun masih enggan berhenti membanjiri pipi lembutnya.

Namun, ia sadar… ia bukan lagi anak rumahan yang bebas mengekspresikan perasaannya, kini cap “santri” telah di tanggungnya. Pencarian maafpun menjadi jalan yang menyulitkan baginya. Ia hanya ingin kata maaf dari Arga sebelum hari agung itu kembali datang.

Andini menguap, rasa kantuk mulai datang menyerangnya, kantung matapun terasa begitu berat dirasakannya. Ia menyadari tubuhnya belum merasakan istirahat sementara jarum jam menunjukan pukul 12:00 malam tepat. Tanpa disadarinya ia tertidur dengan posisi sujud.

********

“Panggilan-panggilan di tujukan kepada Andini komplek Ummu Kultsum kamar satu dari Sukabumi di tunggu kedatanggannya di depan Masjid oleh keluarga”

Andini terdiam tak percaya kalau keluarganya datang menjeguknya, selama ia mesantren di Pon-pes Al-Hikmah di Brebes, Ia selalu di jenguk jika libur panjang, namun kali ini keluarganya datang bukan di hari libur.

“An, kamu hadiah….!” Kata sarah teman sekamarnya.

“Iya, aku dengar” Ucapnya sembari sibuk menata buku dan kitab-kitabnya.

“Sudah, nanti di lanjutkan lagi, Bapak kalih Ibu mriki kok mboten bungah, wonten nopo tho?” Timpal Azmi dengan logat Jawanya sembari tetap asik membaca majalah el-waha yang baru saja didapatkannya tadi pagi.

“Entos ah… sok atuh An tingali heula ka masjid, bilih leres. Panginten kadieu the aya kaperyogian” Kata Sarah, ia menggunakan bahasa Sunda karena sama-sama dari Sunda walaupun ia berasal dari Sumedang.

“Ya sudah aku ke Masjid dulu…!” Kata Andini sembari mengenakan kerudungnya.

“Assalamu’alaikum…!” Salam Andin sembari keluar dari kamarnya.

Andini menelusuri lorong-lorong atau santri-santri sering menyebutnya jalan suci menuju masjid Annur. Teras Masjid yang masih sepi saat Andini habis melaksanakan sholat Dhuha kini ramai dan padat oleh orangtua yang menjengguk anak-anaknya.

Kedua matanya menyusuri orang-orang yang berjubel di teras Masjid, namun tak terlihat keluarganya di antara mereka. Ia hanya mendengus kesal, tapi bukan karena tidak mendapati keluarganya, melainkan kesal melihat rumah Allah di jadikan tempat piknik satu keluarga dengan satu tikar. Sampah-sampah kecil berceceran dimana-mana, genangan air dari aqua gelas sisa didapatinya beberapa kali. Ya Allah… Andini hanya bisa berdo’a semoga Allah mengampuninya dan mengampuni mereka.

“Andini…!” Ada yang memanggilnya dari arah halaman Masjid yang di penuhi mobil-mobil mewah.

Andini menengok “Lucy?” Kager, tidak percaya, seketika berkecamuk dalam pikirannya. Lucy adalah sahabanya waktu SMP dan sepupu Arga.

Lucy berlari menghampirinya.

“Apa kabar? Ya Allah Andini, penampilan kamu beda banget, seperti Ustadzahh..!” Kata Lucy

Andini tersenyum “Alhamdulillah aku baik-baik saja. Eh… apa jangan-jangan yang di maksud keluarga itu adalah kamu?” Tanya Andini penuh curiga.

Lucy mengangguk “ Iya, biar terlalu kaget!” Jawabnya santai

“ Kamu sekolah di Aliyah apa SMA?”

“ Aliyah… kalau kamu?”

“ Andin, Andin, yah Aliyah lah… kan menepati janjiku”

Andin hanya mengangguk.

“ Ikut aku yuk…!” Lucy menarik tangannya menuju mobil APV warna cream yang terparkir di halaman GOR.

“ Lucy, bareng keluarga? Ada acara apa?” Tanya Andini semakin penasaran.

“ Itu…!” Arah pandangan Lucy tertuju pada pintu mobil bagian supir.

Andini memandang heran, tak ada perubahan, tak ada orang yang yang membuka pinru mobil itu.

“ Ih Lucy….!” Andini kesal

“ Tunggu sebentar!”

Andini menurut saja, tak lama pintu mobil itu terbuka pelan bersamaan dengan terlihatnya kaki yang mulai menapak ke tanah.

Subhanallah… Andini terkejut melihat sosok laki-laki yang tak asing lagi untuknya. Arga… orang yang dicarinya dua tahun ini. Satu senyuman tersungging darinya, Andini segera menunduk malu dibuatnya.

Penampilan Arga tak berubah, masih seperti dulu yang masih dengan cap ‘cowok cool se SMP’, padahal setahunya Arga juga masuk pesantren.

Kejadian masa lalu bermunculan secara tiba-tiba di benaknya…. Andini masih ingat sikap Arga yang berubah dingin, Andini masih mengingat ucapan-ucapan pedas yang dilontarkan untuknya. Andini masih ingat perpisahan tanpa pamitan dengannya. Saat itu, Andini terlalu lemah untuk menerima perubahan sikap sahabatnya, hatinya terlalu sakit terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah diantara mereka.

***************

Andini duduk ditemani Lucy ditangga GOR, sementara Arga duduk sedikit menjauh dari mereka. Semuanya terdiam, tak ada yang mulai duluan. Lucy yang menjadi penengah hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari menengok kearah Arga lalu kearah Andini.

“Ih… ayo, siapa yang ingin mulai duluan, Tanya kabar atau apalah, jangan diam-diaman seperti itu” Kata Lucy tak sabar

“Apa kabar, An?” Kata Arga dengan suara datar.

“ Bikhoir…. Antum sendiri?”

Arga mengangguk “seperti yang kamu lihat…!”

Namun Andini dan Arga kembali terdiam.

“ Ih… kalian ini bagaimana, ayo keluarkan unek-unek kalian. An, bukannya dua tahun ini kamu mengharapkan bertemu Arga agar bisa minta maaf dan penjelasan. Kamu juga Ar… maksa ngajak aku kesini untuk menemui Andini. Sudah ketemu malah saling diam” Lucy akhirnya dibuat kesal dengan sikap kedua temannya.

“ Aku bingung, pertanyaan yang mana yang harus aku tanyakan, karana beribu pertanyaan telah tersedia sementara waktu yang tidak memungkinkan” Jelas Andini

“ Katakan saja An, kalau aku bisa menjawabnya Insaya Allah aku jawab” Kata Arga bijaksana

Andini menghela nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya dan suasana hatinya.

“ Tentunya kamu masih ingat apa yang terjadi dua tahun yang lalu…!” Kata Andini

Arga mengangguk.

“ Tanpa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, kamu tiba-tiba menjauh dariku dan aku masih ingat kalimat menyakitkan yang kamu ucapkan ‘makhluk paling menjijikan didunia’ sehina itukah aku dimata kamu? Tapi karena apa? Kata maaf dariku pun tidak pernah kamu dengar…”

Mata Andini berkaca-kaca, Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Pertanyaan yang selalu tersimpan rapat itu akhirnya bias dia ucapkan dihadapan Arga.

“Itu sakit Arga… bahkan saat aku tahu kamu sengaja mengganti nomor handphone kamu gara-gara untuk menghindariku. Bahkan dulu, untuk ada ditempat yang sama saja kamu tidak sudi. Tapi, aku tidak akan pernah menyalahkan kamu, aku hanya … ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Maafkan aku dan aku berharap kamu masih menganggapku sahabatmu. Ku mohon maafkan aku, kamu tahu betapa tersiksanya aku karena terus merasa bersalah saat melewati hari raya. Ku mohon maafkan aku…” Air mata yang sedari tadi di tahannya kini mengalir deras membanjiri pipinya….

Sejenak keheningan kembali terulang, hanya suara isak tangis Andini yang terdengar jelas. Arga beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuruni tangga kemudian menengok kearah Andini.

“ Andini…!” Panggilnya pelan

Andini yang menekukkan wajahnya segera mengangkat wajahnya dan melihat kearah Arga yang lebih dulu menatapnya

“ An, sebenarnya…!” Arga kembali terdiam sejenak, sementara Andini harap-harap cemas menunggu apa yang akan dikatakannya.

“ Sebenarnya aku…!” Lagi-lagi Arga menghentikan ucapannya.

“ Mba bangun… mba ayo bangun…!” Seorang pengurus yang kebagian kontrol membangunkannya. Andini mengeliat bangun, dipandangi sekelilingnya. Gelap dan hanya terlihat wajah pengurus dengan raut wajah tenang dihadapannya. Lalu dimana Lucy dan Arga? Seingatnya dia sedang bersama mereka.

“ Ayo mba pulang, sudah jam satu malam…!”

“ Iya mba!”

Andini beranjak dari sajadahnya, ia hanya bisa mengelus dada menerima kenyataan kalau pertemuannya dan permintaan maafnya hanya sekedar mimpi yang menghiasi kelelahannya.

Dalam langkah menuju komplek, ia hanya berharap jika suatu saat nanti, ia benar-benar bisa menyampaikan maaf padanya meskipun entah kapan hal itu akan terjadi. Mungkin…SUATU SAAT NANTI.

THE END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: