Dua Dunia

· Uncategorized
Penulis

“kamu jangan bodoh, shofia … “kata Aisyah dengan gusar. Selalu begitu jika aku mulai membicarakan Daniel, maka Aisyah akan marah. “bagaimana mungkin kalia bisa bersatu?” nadanya mulai tinggi. “kalau Allah berkehendak, maka semuanya akan mungkin” sanggahku. “baik, Shofia. Kalau itu maumu, lakukan saja. Yang penting … aku sudah berusaha mengingatkanmu”.

“syukron, kamu memang sahabat yang baik” Aisyah melangkah meninggalkan kamarku, aku tahu ia kecewa.Tapi sudahlah, akupun tak ingin semua ini terjadi sebenarnya.

“Shofia … yakinlah, cinta ini akan mengalahkan segalanya. Dan aku akan kembali ke jalan Allah jika bersamamu. Percayalah, Daniel meyakinkanku kemarin sebelum aku berangkat kepesantren ini. Aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Pun ketika ia memberikan amplop putih, sebelum bus kurnia yang ku tumpangi beranjak. Aku tetap diam.

“tak seberapa tapi inilah hasil kerjaku, halal, sungguh… terimalah” katanya. Kemudian sambil meletakkan amplop itu di pangkuanku, lalu ia turun, melambaikan tangan dan kembali bergabung dengan anak-anak jalanan itu.

***

Daniel memang seorang preman. Lebih tepat lagi ketua preman, komlotannya sering mangkal di terminal. Ganas, kata orang, mereka garang. Sebenarnya aku sudah banyak mendengar hal itu sejak lama. Tapi satu tahun terahir ini aku baru mengatahui siapa mereka sebenarnya.

Pertama kali aku mengenal mereka, aku menjadi yakin bahwa tak ada sesuatu pun yang perlu aku takuti dari mereka. Sebenarnya mereka baik. Solidaritas antar teman tinggi. Dan jika menghormati menghargai tak melecehkan serta tidak memandang mereka sebelah mata, maka mereka akan bersikap baik. Bahkan lebih. Tapi sebaliknya jika pandangan sinis dan penghinaan mereka terima, maka jangan harap ada ampunan dari mereka. Mereka benar – benar kompak dalam segala.

Sayangnya … tak ada yang mengarahkan mereka, hingga jalan mereka tak tentu dan sekehendak mereka, seenak hati mereka. Padahal jika ada satu orang saja yang berpengaruh, alim dan mendapati simpati merek, maka mudah saja memperbaiki jalan yang mereka tempuh, setidaknya tak akan mengganggu orang lain lagi.

Dan itulah salah satu sebabnya, mengapa aku mau saja berhubungan demgan daniel. Ia yang mengepalai mereka. Dan jika kepalanya sudah tunduk tentu anak buahnya akan mengekor, begitu pikirku. Tapi yang menjadi masalah adalah status yang aku sandang, aku seorang santri perempuan. Orang-orang disekelilingku tak berpihak pada keputusanku. Terlebih Aisyah, dia sangat antipati pada lelaki itu.

“apa yang dapat kamu harapkan dari lelaki senacam dia?” kata itu selalu aku terima darinya dan orang – orang yang tahu hal ini. Memang benar, Daniel hanya seorang preman. “sudahlah … lupakan, dakwah toh tidak harus ditempuh dengan melakukan hal bodoh ini. Kurasa kamu tak akan sanggup “, solusi fahmi, kaka sepupuku. Padahal bukan itu jawaban yang aku inginkan. Ia laki-laki, aku kira ia akan memberikan dukungan, tapi ku terima malah sebaliknya.

“Atau … kamu sudah jatuh hati padanya?” tebak Aisyah suatu kali, telak, menohok dan aku tak bisa memberikan sanggahan apapun. Maka aku memilih diam.

“Benar? Kamu mencintai lelaki itu?” desak lagi.

“Entahlah … Aisyah. Aku tak tahu”

“Kalau itu jawabanmu, maka aku dapat menyimpulkannya” katanya berteka-teki.

“Aisy … Apa kesimpulanmu mengenai hal ini?”

“kamu mencintainya”

“Aisy …” Cuma itu yang keluar dari mulutku.

***

“Lalu apa gunanya kamu belajar di pesantren bertahun-tahun?” debat Aisyah  kesekian kalinya.

“Maksudmu?”

“Maksudku … kamu tidak menginginkan pendamping hidup yang lebih dari kamu? Lihatlah Mariam, Siti, Rohayah. Mereka satu periode dengan kita. Dan sejkarang sudah berbahagia dengan suami yang shale. Kamu tak menginginkanya ?”

“Tentu saja aku ingin bahagia, bersama siapapun” kataku menerawang.

“Termasuk dengan gembel itu?” katanya makin sengit.

Aku tersengant. Meski gembel ia manusia, berhati berperasaan. Suatu waktu bisa saja mendapatkan hidayah. Dan aku heran dengan pandanganya yang kurasa amat sempit. Meski aku tahu, ia marah karena menyayangiku.

“Aisy … hati-hati kalau ngomong !” kataku ketus.

“oh kamu tidak terima, yah? Afwan deh. Tapi sekali lagi, kamu jangan terpedaya oleh janji-janji manisnya. Orang seperti dia itu tidak bisa dipercaya. Sekarang mungkin bisa berubah. Tapi setelah mendapatkanmu, kemungkinan   untuk kembali itu besar”

“Lantas?” tantangku.

“Lantas kata-katamu tak lagi didengar. Dan kamu akan kecewa”

Robbi benarkah ?

***

Malam telah beranjak pada sepertiga akhirnya. Suasana pesantren sepi. Para santri masih dibuai mimpi, dalam hangat kamar yang berjejalan. Mereka tenang. Wajah-wajah mereka damai. Kecuali Aku. Aku gelisah, meski setengah jam telah ku lalui untuk meminta petunjuk-Nya. Petunjuk untuk langkahku. Petunjuk untuk keputusanku. Haruskan Daniel yang aku terima sebagai teman hidupku? Sebagai pendamping sejati? Sebagai Suami? Aku sendiri heran dengan hatiku. Mengapa bukan Ustadz Jalal, Ustadz Sabiq Arman atau Wafa teman satu pesantren yang mampu membuatku bimbang? Aku biasa saja ketika mereka mengungkapkan keinginan untuk melamarku. Tak ada beban pun ketika menolak mereka dengan hati-hati.

Lain ketika Daniel yang melakukannya. Aku terenyuh melihat penampilan lelaki itu. Rambut panjang pada kekar tubuhnya, tato ular naga, mata memerah dan sebotol vodka ditangan memang sempat membuat ciut nyaliku. Lalu dengan segenap keberanian aku anggukan kepala dan berikan senyum tulus. Hasilnya? Ia ternganga. Dan kata-katanya kemudian itulah yang membuatku semakin terharu.

“Mba tersenyum untuk saya?”

“Ya … tentu, kenapa, Mas?” tanya ku heran.

“Ha … Ha … Ha … Al Hamdulillah … Gusti Allah …” pekiknya dengan bacaan Hamdalah yang tidak faseh sama sekali.

“Ge Er amat, sich. Baru dikasih senyum” potong kawannya.

“He … Panjul. Dialah Gadis pertama yang memberiku senyum. Biasanya orang-orang melihat kita dengan sinis, bukan ? Lihatlah betapa tulus sikapnya menghargai kita”

“Mungkin karena takut. Ya ngga Neng ?” yang lain menimpali.

Ah … tidak kok. Aku yakin kalian tidak akan jahat jika aku menghormati kalian” kataku.

“Benar, Mba … Boleh kenalan dong” yang lain mengerubungiku. Dengan simpatik.

“Bo … Boleh saja. Tapi ini sudah hampir maghrib. Saya harus segera pulang. Bagaimana kalau lain waktu saja?” tolakku halus.

“Lho … Mba ini mau kemana? Dari mana?”

“Kejalan Sindang kasih. Saya dari pesantren di pantai utara. Mau liburan”

“wah … udah ngga ada angkot dong, Bos … Antarkan saja Mba ini”

1 Komentar

Comments RSS
  1. cpy

    pertamaxxxx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: